Photobucket

Rabu, 09 Februari 2011

* Syair Sederhana di Perapian *


Malam kembali bergelut sunyi
Duduk dekat perapian bersanding melody instrument
Meraih pena lalu menulisnya di lembaran putih
Imaji mengalir begitu saja menuntun jemari
Berteman titik air mata kesunyian

Terbesit rasa ingin menjerit
Hampa begitu menyiksa dengan angkuhnya
Tak peduli benak tersayat pedih
Sepi kian menggulat perih

Bintang tak sedia berpancar
Gulita semakin pekat melekat
Rintik kian deras beriring isak
Hujan kian menyesak tanpa iba

Siapa sangka dan tak terkira
Tangis bersembunyi di balik senyum merekah
Nelangsa kian meraja,tersiksa..

Photobucket

»»  BACA SELENGKAPNYA...

Sabtu, 30 Oktober 2010

* Laki-laki Dari Langit * (With Andi Magadhon)

Andi :
O parasnya dari pulau tertimbun pasir
Bagai cahaya kakunang
Angin menggumam seperti lebah
Setelah meninggalkan rumah-rumah bata
Ia selalu menunjuk jalan yang satu
Tapi suaranya tak di dengar
Di malam ungu, bulan mengelupas
Bintang-bintang meleleh di matanya
Langit subuh menyala merah
Di bawah pohon yang menadah hujan
Pelepah kurma tertumpuk jadi sajadah
Di sekitarnya tak ada jejak
Kaki yang menapak di pasirnya
Angin tiba-tiba menggeliat dari celah-celahnya
Menggumam kembali seperti lebah
Seakan berbisik pada waktu
Laki-laki itu pulang ke langit
Dengan kehampaan dada
Tapi sangat yakin apa yang di bawanya
Dunia lalu murung menunggu ajalnya
Dan semakin kehabisan nafas











Poetry :
Lalu turunlah bidadari berbentang sayap
Berbekal gulungan sabit menuju gubug-gubug kayu
Dan mendengar gemerisik kaki yang tengah pergi
Jejaknya mengekor di balik punggung pejantan
Lelehan gemintang di tadahnya pada pangkuan sutera
Asa mengeram seakan ingin menahan lelaki itu pulang
Tak ubah renta sibak kemurungan dada
Biar tiada gemurat hampa menjalar
Melukis pada detik-detik massa dan berkata :
" Tersenyumlah lelakiku,Izinkan ku iring jalanmu "
Tiada lagi cemas menerpa bersanding gulana
Musnah sudah kehampaan jiwa
Laki-laki itu telah bertaut jemari peri
Kembali pada langit dengan rona berseri..
Photobucket

»»  BACA SELENGKAPNYA...

* Insan Terpilih Penguni Rumah Abadi *

Tatapku tertuju pada nisan berlukis nama indahmu
Simpuhku berhadap batu diatas tanah merah
Keranjangku penuh bebungaan yang siap kutabur
Pedih mengingatmu telah berpulang

Tak semestinya ku ratapi bersanding bulir-bulir air mata
Semestinya bahagiaku melepasmu karena DIA lebih kuasa menjagamu
Nuraniku meronta,meraung seakan ingin ku meneriak
Sayu berbekas hampa penuh kesan

Lalu ku tabur wanginya di atas gundukan tempat kau bersembunyi
Berharap itu mampu sekedar temani penatmu di ujung sana
Selamat jalan insan terpilihku,Inilah saat senyum abadimu
Surga di tanganmu, Tuhan di sisimu,Doaku untukmu selalu...

Medio, 06 oktober 2010

Photobucket

»»  BACA SELENGKAPNYA...