Photobucket

Kamis, 21 April 2011

* Sembilu Rindu * (With Egidia Zulka)

Egidia :
Malam begitu pekat merongrong
Menghentak kerinduan,menjelaga pada pusaran angan
Tapi bibir terkatup bisu
Rasa begitu berkecamuk dalam nurani hati
Seakan mengajakku berdebat
Seperti gunung-gunung yang siap meletupkan laharnya
Terhenyak aku dalam rindu ini
Gali dan kais
Dan temukan keindahan yang tak berdebu
Peluk rindu malam heningku

Poetri :
Dan serigala binal meraung di jelaga sumur tua
Bersolek riang di depan cermin lelumutan
Mendekam pada tabung-tabung cendawan
Seolah tertawa menyeru gugusan kemukus tiram
Menjala puing-puing gersang wajah ilalang
Terjerat sebilah rindu pada penjara kepedihan
Ketika terlaun gemercik lirih suara air mata
Rindu tetap tak ingin keluar dari persembunyian penat
Masih menanti di ujung setapak pusara
Bergulat dewadaru di batas sulaman gerhana

Egidia :
Belati mengoyak mencabik menusuk rindu
Tapi rindu tetaplah rindu bersekutu dengan waktu
Melesat bagai terlepas dari busurnya denyutkan nadi jantung
Nafas menari dengan hujan memasung rindu
Mengubur dalam gelisah belantara sunyi, terkapar...
Jiwaku mati menadah peluh yang luruh di dada
Saat kelam menjadi pekat

Poetri :
Wanginya  menebar berselimut permadani biru
Aroma tak tertuai meski terkubur nisan menua
Gemuruhnya tetap bersyair tak melemah
Meski memeras daya berpeluh mengaduh
Merana berbingkai sembilu, rarai dan berkeping
Walau menari berhias gemulai selendang pilu
Rasa itu tetap bertahta mahkota rindu
Abadi hingga tutup putaran waktu..
Photobucket

»»  BACA SELENGKAPNYA...

Rabu, 20 April 2011

* Asa..... *

Asa..
Ia terus saja mendesak buih-buih pengharapan
Lara mendayuh ketika bayu meretas relung nestapa
Menikam hasrat buaian gelora jelaga purnama
Cahyanya senantiasa terangi ruang gulita kelam

Asa..
Tak henti mengacau goyahkan ketetapan nurani
Berpijak di satu titik beku cairkan batu-batu kebencian
Menjamur bagai gelombang virus lemahkan hati
Menyulap gunung kewarasan menjadi danau permohonan

Asa..
Sulamanya seindah rajutan helai sutera
Meski kadang terlantun kecewa pada bibir realita
Bualan seolah berjuta makna mendorong semangatnya
Mencabar pinta agar mentari sudi hangatkan

Asa..
Mampukah puingnya melawan pilar kepedihan renta
Berharap seraya tengadahkan jemari sembari lantunkan doa
Akankan berbuah angan sia belaka berbekal lautan air mata
Ataukah.........

Asa..
Semoga tawa tak berlalu,enggan dan menghindar..
Photobucket

»»  BACA SELENGKAPNYA...

Selasa, 19 April 2011

* Eksekusi Tawanan Kalbu *

Ternyata jeruji itu terlalu sulit terlepas
Meski di hempas gergaji baja raksasa
Bagaimana mungkin langkah bergerak pesat
Sementara kedua kaki tertahan merentan

Kesetiaan masih merekat erat mengunci palung
Meski asa tinggal repihan sisa-sisa
Rindu masih senantiasa membubuh selaksa mantra
Bergerak memutar melantak tanpa arah

Dapatkah imaji menemu kunci pembebas terali
Harap kian berteriak meronta menahan isak
Entah sampai kapan massa memihak kemelut
Hingga mendung memaksa langit berlutut..
Photobucket

»»  BACA SELENGKAPNYA...