Photobucket

Sabtu, 23 April 2011

* Desah Buaian Syair Luka *

Terdengar bising suara rimba melintas imaji khayal
Ketika raga tengah menyandar berdiam pada gubug sepi
Angan terpasung berselimut helai kawat duri
Mengaduh sendu saat gurat girang tak lagi satu
Menolak mantra-mantra tawa sambil berlalu tanpa toleh

Rembulan masih sudi menikahi malam tanpa tabur gemintang
Kiranya langit mulai mengkerut bersiap lahirkan tetes-tetes mega
Lalu bathin memaksa ucap berkeluh dibangku taman kota tua
Memagut pilu diantara senyap lorong-lorong pekat
Terisak menyedu sedan menyeru tiupkan sangkala lara

Melantun lirih sapuan dermaga bayu menghembus bermunajat
Menjamu kesunyian menyuguh nampan secawan madu anggur busuk
Nurani kian tergaduh rintih pada mahkota istana keranda pesakitan
Berbungkus lembaran kafan beku bertemali selusin sembilu
Menjerit menghujam bertabur segenggam kamboja kepedihan

Paras tak lagi ranum bercorak sketsa gelap magenta
Memahat relung menjelma sederet barisan empedu sukma
Hancur rarai menjadi kepingan puzle tangis melukis sudut mata
Keriput,surut,menyulut muram rona masam wajah durjana
Layu terkatup membisu bersanding linang samudera air luka..

Photobucket

»»  BACA SELENGKAPNYA...

Jumat, 22 April 2011

* Judulnya "RINDU" Boleh Laahh.. * hehe...

Saat kata ingin bersua
Berjelaga bibir terkatup rindu
Tersentuh kuntum menyerpih asa
Dekade waktu mencaci harap

Malam menyerpih terang
Melantun harpa-harpa memecah udara
Rindu tetap menggantung pada puannya
Penjara resah di ujung desah

Toreh sketsa senyum desir
Bermekar tenang bersasmita
Indahnya menyeruak melambai lembut
Terpaku rindu tanpa alas

Senyum asa terpasung labirin
Bersenandung menyekap rindu
Memupuk waktu menjinjing angan bertemu
Lamun masih berlabuh pada rona bening...
Photobucket

»»  BACA SELENGKAPNYA...

Kamis, 21 April 2011

* Sembilu Rindu * (With Egidia Zulka)

Egidia :
Malam begitu pekat merongrong
Menghentak kerinduan,menjelaga pada pusaran angan
Tapi bibir terkatup bisu
Rasa begitu berkecamuk dalam nurani hati
Seakan mengajakku berdebat
Seperti gunung-gunung yang siap meletupkan laharnya
Terhenyak aku dalam rindu ini
Gali dan kais
Dan temukan keindahan yang tak berdebu
Peluk rindu malam heningku

Poetri :
Dan serigala binal meraung di jelaga sumur tua
Bersolek riang di depan cermin lelumutan
Mendekam pada tabung-tabung cendawan
Seolah tertawa menyeru gugusan kemukus tiram
Menjala puing-puing gersang wajah ilalang
Terjerat sebilah rindu pada penjara kepedihan
Ketika terlaun gemercik lirih suara air mata
Rindu tetap tak ingin keluar dari persembunyian penat
Masih menanti di ujung setapak pusara
Bergulat dewadaru di batas sulaman gerhana

Egidia :
Belati mengoyak mencabik menusuk rindu
Tapi rindu tetaplah rindu bersekutu dengan waktu
Melesat bagai terlepas dari busurnya denyutkan nadi jantung
Nafas menari dengan hujan memasung rindu
Mengubur dalam gelisah belantara sunyi, terkapar...
Jiwaku mati menadah peluh yang luruh di dada
Saat kelam menjadi pekat

Poetri :
Wanginya  menebar berselimut permadani biru
Aroma tak tertuai meski terkubur nisan menua
Gemuruhnya tetap bersyair tak melemah
Meski memeras daya berpeluh mengaduh
Merana berbingkai sembilu, rarai dan berkeping
Walau menari berhias gemulai selendang pilu
Rasa itu tetap bertahta mahkota rindu
Abadi hingga tutup putaran waktu..
Photobucket

»»  BACA SELENGKAPNYA...