Musafir itu hanya diam memandang padang ilalang tergelar di hadapnya
Bathinnya merintih,meronta mengerang kesakitan
Sepertinya belati berkarat telah menghunus melukai ujung sukmanya
Berdiri ia di dekat perapian kayu bara
Abunya rarak rarai berterbangan di atas mahkotanya
Ia tak ambil peduli seolah helai rambutnya kebal akan debu dan panas
Ia tetap bungkam,terdiam dan tak beranjak
Terdengar gemerisik menuju ke arahnya
Ia pun menoleh mencari asal suara yang mengusiknya
Tiba-tiba seorang anak kecil berlari mendekat
Sambil membawa seekor merpati terluka,anak itupun menyapa
“ Kak,bolehkah saya meminta tolong?”
Musafir itu hanya mengangguk dan tersenyum ramah
“Kak,merpati ini terluka,kasihan dia. Maukah kau membantu merawatnya?”
Di ulurkanya merpati itu dengan sepasang telapak tanganya
Sekali lagi, Musafir itu hanya mengangguk dan tersenyum ramah
“Terimakasih kak,,,” Ucap anak itu lalu berlari meninggalkanya
Kini merpati itu telah berada di genggamnya tanpa ia tahu harus berbuat apa
Pikiranya kosong,hatinya terpenjara oleh tragedi yang pernah menimpanya
Tiba-tiba merpati itu bergerak-gerak menyadarkan lamunannya
Kebisuanyapun pecah,,
“Tuhan,apa yang telah kulakukan??mengapa aku hanya diam menyaksikan merpati ini menderita??Ampun Tuhan,beri aku kesempatan tuk pulihkan lukanya”
Di ambilnya dedaunan segar sebagai pencabarnya
Di tumbuknya,lalu di lumurkan di atas kulit merpati yang tersayat
Di petiknya bebijian,lalu di suapkan pada paruhnya
Musafir itu merawatnya dengan penuh kasih
“Telah bertahun musafir itu memenjarakan diri dalam hutan tanpa senyum,tanpa tawa.
Yang terbesit hanya pedih,luka dan sakit yang mendera.
Kepergian kekasih yang teramat sangat di cintainya membuatnya terpuruk dan terkubur dalam nestapa.
Satu hari sebelum pesta pernikahan,Tuhan mengambil kekasihnya kembali ke pangkuan-Nya”
Laun massa bergulir,merpati itupun bangkit.
Sayapnya mulai berkepak,bulunya mengembang indah,,
Puas tatap musafir menyaksikan ia berhasil pulihkan lara sang merpati
Senyumnyapun mengembang,
Merpati itu telah pulihkan muram pada rona kelamnya
Musafir itupun kini mampu tersenyum bahagia...
Dari penggalan cerita di atas,terselip pesan yang mungkin bisa kita jadikan tauladan sebagaimana kita umat-Nya di dunia. “Bahagiakan orang lain bila kita ingin bahagia”
Salam,
Poetry Mistery



* TENTANG MUSAFIR DAN SEEKOR MERPATI *
0 komentar:
Posting Komentar